Saya sempat mikir, kenapa ya rempah-rempah itu masih aja jadi topik menarik buat dibahas, padahal zaman keemasannya udah lewat ratusan tahun lalu. Tapi makin dalam saya gali, ternyata jawabannya cukup masuk akal, rempah itu bukan komoditas yang “kadaluarsa”, dia cuma berubah bentuk relevansinya aja seiring zaman.

Kalau kita mundur ke belakang, cengkeh dan pala dari Maluku itu dulu bukan main-main harganya. Di abad ke-16, dua rempah ini bahkan lebih mahal dari emas di pasar Eropa, sampai-sampai bikin bangsa Portugis, Spanyol, Belanda, sampai Inggris rebutan buat menguasai wilayah penghasilnya. Bahkan ada cerita yang cukup terkenal, Pulau Run di Maluku yang kecil itu pernah ditukar dengan sebuah pulau di Amerika yang sekarang kita kenal sebagai Manhattan, New York.

Fakta ini selalu bikin saya mikir ulang soal definisi “berharga”. Zaman itu, orang Eropa rela berlayar berbulan-bulan, menantang ombak dan penyakit, cuma demi dapetin cengkeh dan pala. Padahal kalau dipikir-pikir sekarang, dua bahan itu cuma numpang lewat di dapur kita buat bikin rendang atau gulai.

Nah, yang menarik, meski era kejayaan rempah sebagai primadona dagang dunia udah lama berakhir, bukan berarti nilai ekonominya ikut hilang begitu aja. Faktanya, Indonesia sampai sekarang masih jadi salah satu produsen rempah dengan nilai ekonomi tinggi di pasar internasional, dan rempah pun tetap jadi bagian yang nggak terpisahkan dari identitas kuliner nusantara, mulai dari rendang, soto, sampai rawon yang kita makan sehari-hari.

Bukan cuma soal masak-memasak aja sih. Dunia kesehatan dan farmasi belakangan juga makin serius melirik potensi rempah, terutama buat kebutuhan produk herbal dan riset bahan alami. Jadi kalau dulu rempah dicari karena fungsinya sebagai pengawet makanan dan penambah cita rasa, sekarang perannya melebar jauh lebih luas lagi.

Saya pribadi jadi mikir, mungkin ini semacam pelajaran juga buat kita soal bagaimana sebuah komoditas bisa “bertahan hidup” lintas zaman. Bukan karena dia stagnan, tapi karena terus nyari relevansi baru sesuai kebutuhan manusia yang berubah. Rempah nggak lagi jadi barang mewah rebutan kerajaan-kerajaan Eropa, tapi dia menjelma jadi komoditas yang tetap punya pasar sendiri, baik di sektor kuliner, kesehatan, sampai industri herbal modern.

Menariknya lagi, cerita rempah ini juga jadi pengingat kalau Indonesia sebenarnya punya modal sejarah yang kuat banget di sektor ini. Bukan cuma soal nostalgia jalur rempah zaman dulu, tapi soal bagaimana warisan itu bisa dikembangkan lagi jadi kekuatan ekonomi yang lebih terstruktur di masa sekarang, apalagi dengan tren global yang makin condong ke produk-produk alami dan herbal.

Jadi, kalau ditanya apakah rempah masih relevan sebagai komoditas menjanjikan? Jawabannya jelas iya, cuma konteksnya aja yang bergeser. Kalau dulu orang berperang demi menguasai jalur rempah, sekarang tantangannya lebih ke soal bagaimana mengelola dan mengembangkan potensi itu supaya nilainya bisa dinikmati lebih maksimal, bukan cuma jadi cerita sejarah yang berhenti di buku pelajaran.

Referensi:

  1. Jalur Rempah Kemdikbudristek — jalurrempah.kemdikbud.go.id
  2. Retizen Republika — retizen.republika.co.id
  3. Liputan6 Regional — liputan6.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *