
Ketahanan gizi anak bukan cuma soal ketersediaan makanan, tapi juga soal keterjangkauan harga. Susu, salah satu sumber protein dan kalsium terbaik buat pertumbuhan anak, sayangnya masih jadi barang yang harganya cukup membebani sebagian rumah tangga Indonesia.
Susu: Penting tapi Belum Terjangkau Merata
Susu punya peran krusial, apalagi di rentang usia 9-13 tahun yang merupakan puncak kecepatan tumbuh manusia. Kandungan protein dari susu juga terbukti lebih optimal diserap tubuh dibanding sumber protein lain, ditambah manfaatnya buat kesehatan tulang dan gigi anak. Masalahnya, harga susu bubuk maupun UHT di pasaran masih relatif tinggi buat sebagian kalangan, apalagi buat keluarga dengan pengeluaran pangan yang sudah tertekan oleh kenaikan harga komoditas pokok lainnya.
Peran Program Bantuan Pangan
Di sinilah program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) coba mengambil peran. Sejak digulirkan Januari 2025, program ini awalnya menargetkan puluhan juta penerima manfaat, dari siswa sekolah, balita, sampai ibu hamil dan menyusui, dengan komponen susu fortifikasi sebagai salah satu elemen pemenuhan gizi.
Namun realitanya, pemberian susu dalam program ini ternyata tidak selalu konsisten setiap hari dan belum merata di seluruh wilayah Indonesia, sebagian besar karena keterbatasan alokasi anggaran per anak per hari. Beberapa daerah bahkan sempat menghentikan sementara distribusi susu dalam program MBG, yang pada gilirannya justru berdampak ke pola permintaan pasar, termasuk harga telur dan daging ayam yang sempat melandai saat program terhenti selama libur sekolah pertengahan tahun ini.
Kesenjangan yang Masih Perlu Dijembatani
Fenomena ini menunjukkan dua hal penting. Pertama, program bantuan pangan seperti MBG sebenarnya cukup berpengaruh terhadap dinamika harga pangan pokok di pasar, bukan cuma soal pemenuhan gizi semata. Kedua, keberlanjutan pemenuhan gizi anak, khususnya susu, masih sangat bergantung pada besaran anggaran dan konsistensi distribusi program, yang kalau terputus, risikonya langsung kembali ke rumah tangga yang sebelumnya mengandalkan bantuan tersebut.
Menuju Ketahanan Gizi yang Lebih Kokoh
Ketahanan gizi anak Indonesia sebenarnya nggak bisa dilepaskan dari dua sisi mata uang: stabilitas harga pangan pokok di pasar, dan konsistensi program bantuan yang menjangkau kelompok rentan. Kalau harga susu dan pangan bergizi lainnya masih fluktuatif, sementara program bantuan belum sepenuhnya merata, target besar seperti bebas stunting dan generasi emas 2045 tentu butuh kerja lebih keras lagi, bukan cuma dari sisi anggaran, tapi juga dari sisi tata kelola distribusi dan stabilisasi harga di tingkat konsumen.