Sebagai orang yang cukup sering menelusuri jejak-jejak komoditas nusantara yang jarang dibahas, saya harus akui, kapur barus ini salah satu topik yang paling bikin penasaran. Namanya emang nggak sepopuler cengkeh atau pala yang sering disebut-sebut dalam cerita sejarah rempah nusantara, tapi klaimnya jauh lebih dramatis, katanya bahan ini dulu dipakai buat mengawetkan mumi para Firaun di Mesir kuno.

Klaim ini bukan isapan jempol belaka lho. Namanya sendiri, “kapur barus”, diambil dari Barus, sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, yang dulu dikenal sebagai bandar dagang penting pengekspor kamper ke berbagai penjuru dunia. Bahan ini berasal dari cairan yang dikeringkan hasil ekstraksi pohon kamper (Cinnamomum camphora), dan di daerah asalnya juga dikenal dengan sebutan haburuan atau kaberun.

Yang bikin cerita ini makin menarik, ada dugaan kalau kerajaan kuno bernama Lobu Tua pernah berdiri di kawasan Barus sejak sekitar 3.000 sampai 5.000 tahun sebelum Masehi. Perkiraan usia ini sendiri muncul setelah ditemukannya kandungan kapur barus pada beberapa mumi Mesir kuno dari periode yang sezaman. Kalau benar, ini artinya jalur dagang antara nusantara dan Mesir kuno sudah terjalin jauh lebih awal dari yang kita bayangkan selama ini.

Tapi, Apakah Klaim Ini Benar-benar Terbukti Secara Ilmiah?

Nah, di sinilah bagian yang menurut saya penting buat didudukkan dengan jujur. Sebagai orang yang concern soal validitas data sejarah komoditas, saya nggak mau cuma ikut-ikutan menyebarkan cerita tanpa menimbang bukti yang ada.

Faktanya, klaim soal kapur barus sebagai bahan pembalseman mumi Firaun ini memang sudah lama beredar luas, bahkan pernah disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo dalam sebuah kesempatan yang menyebut mumi Mesir bisa awet karena kandungan kapur barus dari Sumatra. Namun di sisi lain, penelitian arkeologis dan kimiawi modern, salah satunya riset yang dilakukan Dr. Stephen Buckley, belum menemukan jejak kamper dalam sampel balsem pembalseman mumi Mesir yang diteliti. Meski begitu, ketiadaan temuan ini juga bukan berarti otomatis membantah total kemungkinan penggunaannya, karena dunia riset arkeologi memang terus berkembang dan masih terbuka kemungkinan ditemukannya bukti baru di masa depan.

Jadi menurut saya, posisi paling jujur buat kita ambil adalah menempatkan cerita ini sebagai narasi sejarah yang kuat secara tradisi lisan dan catatan sejarah lokal, tapi masih memerlukan penguatan bukti ilmiah yang lebih definitif buat bisa dikatakan sepenuhnya terkonfirmasi.

Kenapa Cerita Ini Tetap Penting Buat Diangkat?

Terlepas dari perdebatan soal validitas ilmiahnya, satu hal yang menurut saya jauh lebih penting untuk digarisbawahi: kapur barus adalah bukti nyata kalau nusantara sudah jadi bagian dari jaringan perdagangan global sejak ribuan tahun lalu, jauh sebelum era kolonial Eropa yang biasanya jadi fokus utama pembahasan sejarah dagang kita. Catatan sejarah mencatat kalau pelabuhan Barus sudah ramai dikunjungi saudagar dari India, Tiongkok, Arab, bahkan tercatat dalam kitab geografi kuno karya Ptolemeus dari abad ke-2 Masehi.

Sayangnya, dibanding komoditas rempah lain seperti cengkeh dan pala yang sering diangkat dalam pembahasan sejarah dagang nusantara, kapur barus ini justru kurang dapat sorotan, padahal potensinya buat membangun kesadaran sejarah ekonomi nusantara sebenarnya nggak kalah kuat. Ironisnya lagi, pohon kamper asli penghasil kapur barus sekarang berstatus nyaris punah akibat eksploitasi yang nggak terkendali di masa lalu, tanpa upaya pelestarian yang cukup serius.

Refleksi Buat Kita Semua

Bagi saya pribadi, kisah kapur barus ini jadi pengingat penting soal betapa banyak komoditas nusantara yang punya nilai sejarah luar biasa, tapi minim perhatian dan dokumentasi yang layak. Kalau cengkeh dan pala punya “panggung” yang cukup besar dalam narasi sejarah dunia, kapur barus justru nyaris jadi catatan kaki yang gampang terlewatkan, padahal jejaknya menghubungkan langsung Sumatra dengan salah satu peradaban paling ikonik dalam sejarah manusia.

Sebagai peneliti yang concern di ranah sejarah komoditas, saya rasa sudah waktunya kita mulai lebih serius menggali dan mendokumentasikan warisan-warisan dagang nusantara semacam ini, bukan cuma buat kepentingan romantisme sejarah, tapi juga sebagai modal identitas ekonomi bangsa yang sayangnya masih sering luput dari perhatian generasi sekarang.

Referensi:

  1. Kumparan News — kumparan.com
  2. Antara News — antaranews.com
  3. Prestasi.net — prestasi.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *